RADARCenter, Nasional– Ir. Sutami adalah Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik era Soekarno-Soeharto, yang dikenal sebagai menteri termiskin di Indonesia.
Selama 14 tahun menjabat, ia hidup sederhana, rumahnya pernah bocor, listrik pernah dicabut karena telat bayar, dan kesulitan biaya berobat, mencerminkan integritas tinggi di balik proyek besar seperti Jatiluhur.
Ir. Sutami sebagai menteri yang sangat dipercaya oleh Presiden Soekarno dan Soeharto karena kejujuran dan dedikasinya yang tinggi terhadap pembangunan infrastruktur Indonesia.
Ia berperan besar dalam pembangunan berbagai infrastruktur penting, seperti:
● Simpang Semanggi, ikon Jakarta
● Gedung DPR/MPR, termasuk konsep kubah hijau khasnya
● Waduk Jatiluhur
● Bandara Ngurah Rai Bali
● Jembatan Ampera Palembang
Kalau kita melihat kemegahan Jembatan Semanggi, Gedung MPR/ DPR, atau Bendungan Jatiluhur. Ingatlah satu nama, lr. Sutami. Menteri Kesayangan dua Presiden Republik Indonesia (Soekarno & Soeharto). Menjabat selama 14 tahun (1964-1978)
Melalui tangannya, beton-beton raksasa berdiri kokoh menjadi ikon negara.Tapi siapa sangka, kehidupan pribadinya justru sangat rapuh.
Saat masih menjabat dihari Lebaran, tamu-tamu pejabat datang bertamu bersilaturahmi ke rumah dinasnya di Jalan lmam Bonjol. Tiba-tiba hujan deras turun. Para tamu kaget melihat air menetes deras ke ruang tamunya. Dengan santai, Pak Menteri mengambil ember untuk menampung air tersebut.
“Maaf ya, atapnya memang sudah
lama bocor, belum ada uang buat
benerin,” ucapnya saat itu sambil tersenyum.
Tamu tamu pejabat tersebut terdiam, Ini rumah seorang Menteri PU yang mengurus infrastruktur negara?
Kejujuran Sutami sebagai Menteri PU tak perlu diragukan lagi. Dikabarkan juga, pernah suatu ketika, rumah pribadinya di Solo mengalami gelap gulita. Bukan karena pemadaman bergilir. Tapi karena aliran listrik dirumahnya tersebut dicabut petugas PLN.
Alasannya sederhana: Karena Pak Menteri tersebut telat bavar tagihan, karena gajinya habis. Bayangkan, seorang Menteri Tenaga Listrik, tapi tak mampu beli setrum untuk dirinya sendiri.
Saat tubuhnya mulai digerogoti penyakit lever dan kurang gizi, Sutami enggan dibawa ke Rumah Sakit. Bukan karena takut jarum suntik. Tapi karena ia takut tak sanggup bayar biayanya.
Mendengar hal tersebut ,Presiden Soeharto sampai harus turun tangan meminta dokter kepresidenan untuk merawatnya.
la pun mulai baru mau dirawat setelah dipaksa dan dijamin pemerintah. Padahal, sebagai Menteri PU, Sutami memegang ribuan proyek basah. Tapi satu persen pun la tidak meminta fee dari kontraktor Jembatan Semanggi atau Bandara Ngurah Rai.
Dikabarkan juga, bahwa la pernah menolak pemberian mobil mewah dari pengusaha. Prinsifnya, la mengharamkan uang rakyat masuk ke kantong pribadinya, meski itu artinya ia harus hidup melarat.
Ketika pensiun tahun 1978, ia mengembalikan semua fasilitas negara. Mobil dinas dikembalikan dan rumah dinas ditinggalkan.
Setelah pensiun, Sutami baru bisa membeli rumah sederhana dengan cara mencicil dari uang pensiunnya yang tak seberapa. Rumah itu baru lunas tepat sebelum ia meninggal dunia pada tahun 1980.
Ir. Sutami tidak mewariskan tumpukan emas. Tapi, la mewariskan Jembatan yang lewati masyarakat setiap har. la mewariskan Gedung MPR tempat wakil rakyat bekerja.
Selain itu, ia juga mewariskan sebuah tamparan keras. Bahwa membangun negeri tak harus dengan cara mencuri.
Ini merupakan sebuah sikap langka untuk jabatan dengan kuasa sebesar itu.Terima kasih, Pak Sutami. Karyamu akan selalu abadi. (RC/Red)




















