Dikelilingi Kabel Tapi Tak Menyala: 60 Rumah di DKU Terjebak dalam Kegelapan

- Jurnalis

Sabtu, 17 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RADARcenter, Palembang — Warga Perumahan Dwi Kencana Utama (DKU), yang berlokasi persis di depan Villa Gandus, menghadapi kondisi yang jauh dari kata layak. Meski telah menempati hunian sejak 2024 dan menyetorkan biaya sambungan listrik kepada pengembang, PT Karya Mandiri Propertindo Utama (KMPU), hingga kini sekitar 60 rumah di kawasan tersebut belum memiliki sambungan meteran listrik dari PLN.

Sebagai solusi darurat, warga terpaksa menyambung listrik secara ilegal dari satu rumah ke rumah lainnya. Kondisi ini sangat membahayakan, apalagi saat hujan, karena rawan korsleting bahkan sambaran petir.

Salah satu insiden sempat terjadi ketika warga menggunakan sambungan dari gudang milik pengembang yang akhirnya disambar petir saat hujan deras.

Viral Perumahan Dwi Kencana Utama

“Kalau satu meteran dipakai ramai-ramai, apalagi sambungan kabelnya tidak standar, siapa yang bisa jamin keselamatan? Ini bukan lagi soal kenyamanan, tapi nyawa,” kata Hajimi, salah satu warga DKU.

Masalah tidak berhenti di listrik. Pada malam hari, suasana komplek gelap gulita karena belum ada lampu jalan. Di beberapa titik, jalan lingkungan rusak parah dan tak kunjung diperbaiki.

Yang lebih memprihatinkan, hingga berita ini diturunkan (17 Mei 2025), fasilitas umum seperti masjid komplek pun belum tersedia. Warga terpaksa harus beribadah di masjid pesantren yang berada di luar area perumahan.

Padahal, penyediaan fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos-fasum) merupakan kewajiban mutlak pengembang sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Dalam Pasal 3 UU tersebut ditegaskan bahwa pengembang wajib menyediakan fasilitas dasar bagi warga, termasuk listrik, tempat ibadah, penerangan jalan, dan infrastruktur umum lainnya.

Pelanggaran atas ketentuan ini dapat dikenakan sanksi tegas, termasuk pencabutan izin usaha pengembang.

Warga berharap PT KMPU segera menunaikan tanggung jawabnya dan menggandeng PLN untuk mempercepat pemasangan meteran. Mereka juga mendesak pemerintah daerah serta instansi terkait untuk turun tangan dan memastikan hak-hak dasar warga dipenuhi.

“Jangan tunggu sampai ada korban dulu baru semua pihak sibuk bertindak. Kami hanya ingin hidup normal dan aman, seperti layaknya warga komplek lainnya,” ujar Hajimi.

(*Dede R)

Follow WhatsApp Channel www.radarcenter.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sosialisasi Dan Penguatan Pengawasan Partisipatif Dalam Pengawasan Penyelenggaraan Pemilihan Umum
Dugaan Pasokan HSD Liar PT.OKI PULP Dan PAPER MILLS Guncang Publik
Akibat Angin Kencang Pohon Besar Tumbang, Menimpa Mobil Toyota Rush
Pastikan Penggunaan Senjata Api Sesuai Prosedur, Bidpropam Polda Sumsel Lakukan Penertiban Dan Pengecekan Senpi Di Polres Ogan Ilir
Polda Sumsel Musnahkan 35 Kg Sabu, 87 Tersangka Dijerat Dari Penindakan Di 182 Lokasi
Keluarga Besar Dinas Pendidikan Ogan Ilir Lepas Kepergian Sayadi Di Momen Purnabakti
Roadshow Sosialisasi Kepemimpinan Dan Kewirausahaan Karang Taruna 2026 Digelar Di Tanjung Raja
BAZNAS Kota Palembang Peringati Hari Sumpah Pemuda 2026 “Bersatu dalam Keberagaman, Berkarya untuk Negeri” ​

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 12:29 WIB

Sosialisasi Dan Penguatan Pengawasan Partisipatif Dalam Pengawasan Penyelenggaraan Pemilihan Umum

Selasa, 3 November 2026 - 06:09 WIB

Dugaan Pasokan HSD Liar PT.OKI PULP Dan PAPER MILLS Guncang Publik

Senin, 2 November 2026 - 15:50 WIB

Akibat Angin Kencang Pohon Besar Tumbang, Menimpa Mobil Toyota Rush

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:11 WIB

Pastikan Penggunaan Senjata Api Sesuai Prosedur, Bidpropam Polda Sumsel Lakukan Penertiban Dan Pengecekan Senpi Di Polres Ogan Ilir

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:28 WIB

Polda Sumsel Musnahkan 35 Kg Sabu, 87 Tersangka Dijerat Dari Penindakan Di 182 Lokasi

Berita Terbaru