RADARCenter, Banyuasin– Pemberdayaan masyarakat sejati tidak harus dimulai dari program besar atau proyek pemerintah. Justru, perubahan paling nyata sering lahir dari inisiatif kecil yang dilakukan warga desa sendiri seperti yang dilakukan oleh Sutriana melalui usaha peternakan sapi yang dibangunnya sejak tahun 2019.
Usaha peternakan sederhana itu kini berkembang menjadi sumber penghasilan, wadah pembelajaran, sekaligus ruang pemberdayaan bagi masyarakat sekitar.
Melalui Kelompok Tani Cemerlang, para peternak dapat berdiskusi, bertukar pengalaman, dan saling menguatkan. Aktivitas informal seperti ini merupakan contoh nyata bagaimana Pendidikan Luar Sekolah (PLS) bekerja secara organik ditengah masyarakat: sederhana, fleksibel, namun berdampak nyata.
Meski demikian, laporan tersebut juga menyoroti sejumlah tantangan yang tidak boleh diabaikan. Keterbatasan pengetahuan teknis dalam penanganan kesehatan sapi, kurangnya inovasi pakan, serta belum optimalnya pemasaran menunjukkan bahwa masyarakat masih membutuhkan pendampingan berkelanjutan.
Pemerintah daerah, penyuluh peternakan, dan lembaga pendidikan seharusnya melihat potensi besar ini sebagai peluang untuk menghadirkan pelatihan dan dukungan yang lebih sistematis.
Namun pada akhirnya, keberadaan Kelompok Tani Cemerlang tetap memberi pesan penting: masyarakat desa mampu berkembang ketika diberi ruang, kepercayaan, dan kesempatan.
Mereka membuktikan bahwa pemberdayaan tidak harus menunggu bantuan besar; ia bisa tumbuh dari niat, kebersamaan, dan kerja keras masyarakat itu sendiri.
Peternakan sapi di Desa Panca Mulya bukan hanya usaha, tetapi contoh pemberdayaan yang dapat dijadikan model bagi desa lain. Jika pendampingan teknis dan pelatihan berkelanjutan diberikan dengan tepat, tidak menutup kemungkinan usaha seperti ini akan menjadi tonggak ekonomi desa dan menginspirasi lahirnya lebih banyak program pemberdayaan masyarakat di masa depan.
Sumber : Nur Ahmad Endri Anto,
Mahasiswa UNSRI Jurusan pendidikan Masyarakat.
Pewarta : Emi




















