RADARCenter, Palembang– Nama Kertapati dalam sejarah Kota Palembang erat kaitannya dengan pembangunan jalur kereta api oleh Belanda pada awal abad ke-20, di mana daerah ini menjadi salah satu titik penting, dan meskipun namanya mirip “Kereta Api”, asal-usul pastinya lebih merujuk pada konteks historis pembangunan rel, bukan langsung dari tokoh pewayangan Raden Inu Kertapati.
Nama ini merujuk pada sebuah wilayah (sekarang kecamatan) di Kota Palembang yang menjadi bagian penting dalam jaringan kereta api Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) yang menghubungkan Prabumulih dengan Palembang pada tahun 1915, menjadikannya lokasi strategis saat itu.
Wilayah Kertapati menjadi lokasi pembangunan stasiun dan jalur kereta api yang menghubungkan Palembang ke daerah lain di Sumatera Selatan, menjadikannya area yang penting secara administratif dan transportasi pada masa itu.
Nama Kertapati lahir dari sejarah pembangunan infrastruktur kereta api di Sumatera Selatan oleh Belanda, menandai sebuah wilayah yang menjadi bagian integral dari jaringan transportasi kereta api modern pertama di wilayah tersebut, bukan dari cerita mitologi.
Namun, jika dibandingkan dengan daerah lain di Pulau Sumatera, pembangunan stasiun dan jalur kereta di Palembang sedikit terlambat.
Bahkan, Pulau Jawa sendiri sudah memulainya sejak 1870, yang disusul Aceh (1874), Sumatra Utara (1886), dan Sumatra Barat (1891).
Sebelum bernama Kertapati, tempat pembangunan stasiun ini bernama Karang Berahi. Jika dibaca sekilas, besar kemungkinan nama Kertapati berasal dari kata-kata “kereta api”.
Meski begitu, nama stasiun ini justru tak ada hubungannya dengan tokoh lakon yang bernama Raden Inu Kertapati.
Pembangunan Stasiun Kertapati memerlukan lahan yang cukup luas. Penduduk yang berada di tempat itu harus dipindahkan.
Pemerintah Gemeente Palembang lantas memindahkan banyak kepala keluarga ke sebuah tempat di seberang Sungai Musi, tempat ini kemudian bernama Karang Anyar.
Pada awalnya, jalur kereta api Prabumulih–Kertapati beserta stasiun-stasiunnya, diresmikan pada tanggal 1 November 1915.
Peresemian tersebut dilakukan oleh Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS), divisi dari Staatsspoorwegen (SS).
Tak lama setelahnya, pembangunan diarahkan ke Palembang, yang dibagi menjadi dua wilayah kerja yaitu Lampung dan Palembang.
Pada 22 Februari 1927, Palembang dan Bandar Lampung akhirnya terhubung, yang ditandai dengan peresmian segmen ke arah Blambangan Umpu oleh Kepala Jawatan SS.
Dengan menggunakan lebar sepur 1.067 mm, ZSS berhasil membangun jalur kereta api di rute Palembang–Bandar Lampung sejauh 529 kilometer.
Kesuksesan tersebut menginspirasi sebuah rencana besar untuk menghubungkan seluruh wilayah Sumatera dengan rel kereta api.
Sayangnya, depresi besar (malaise) yang terjadi di akhir dekade 1920-an menggagalkan rencana tersebut. (RC/Red)




















