RADARCenter, OGAN ILIR — Proyek pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Sejaro Sakti, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, yang menelan anggaran sebesar Rp1,5 miliar, kini menjadi sorotan tajam di kalangan masyarakat setempat. Pasalnya, fasilitas yang diklaim dibangun untuk mendukung pengairan lahan persawahan justru berada di lokasi yang tidak memiliki areal pertanian padi.
Proyek yang tercatat dalam daftar kegiatan tahun anggaran 2025 ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat: untuk kebutuhan siapa sebenarnya fasilitas ini dibangun?
Berdasarkan papan informasi yang terpasang di lokasi, proyek tersebut tercatat sebagai Sumur JIAT Sejaro Sakti — OI 7, terletak di Dusun I Desa Sejaro Sakti, dengan titik koordinat 3°15’37.44″S, 104°38’4.92″E.
Secara administrasi, kegiatan ini merupakan pembinaan dari Kementerian PUPR, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII.
Spesifikasi teknis tertulis di papan menunjukkan debit pompa 2 liter per detik dan debit sumur mencapai 4,20 liter per detik, dengan peruntukan resmi tertulis sebagai irigasi persawahan. Namun, kenyataan di lapangan tampak berbeda dengan dokumen perencanaan tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media, Sani salah satu warga yang lahannya berada tepat di sekitar bangunan JIAT, menyampaikan bahwa dilokasi tersebut tidak ada yang bertani padi.
“Di sekitar sini tidak ada yang bertani padi, Pak. Kami ini justru petani sayur,” kata Sani kepada awak media. Minggu (11/10/2026)
Selama ini lanjutnya, para petani sayur diwilayah tersebut mengandalkan sumur bor milik masing-masing untuk kebutuhan pengairan tanaman. Fasilitas JIAT yang telah dibangun itu jarang sekali digunakan.
“Kami lebih sering memanfaatkan air dari sumur sendiri untuk menyiram sayuran. Air dari JIAT ini baru sesekali kami gunakan,” tambahnya.
Bahkan lahan berumput yang berada di sekitar bangunan JIAT pun diakui belum pernah dijadikan lahan persawahan. Sani mengaku baru mengetahui bahwa proyek tersebut direncanakan untuk keperluan pengairan padi setelah melihat papan informasi dilokasi.
JIAT 5 Juga Bermasalah, Pipa Saluran Diduga Bocor di Beberapa Titik
Permasalahan ternyata tidak hanya terjadi pada JIAT OI 7. Unit JIAT 5 yang berlokasi di Dusun II Desa Sejaro Sakti dengan koordinat 3°16’1.20″S, 104°39’52.92″E juga menuai keluhan dari warga.
Meski sebelumnya disebutkan sudah dilakukan perbaikan, warga menilai penanganan yang dilakukan hanya terbatas pada pemindahan tegangan listrik dan pengecekan mesin pompa. Sementara saluran pipa yang tertanam di bawah tanah dikabarkan masih mengalami kebocoran di banyak titik.
“JIAT ini direncanakan untuk mengairi sawah seluas 10 hektare, tapi kenyataannya belum tentu cukup untuk satu hektare saja. Pipa yang ditanam bocor di mana-mana, terlihat jelas tanah di atasnya selalu basah dan ada yang tergenang air,” ungkap salah satu petani.
Kondisi ini memunculkan dugaan kuat adanya kelemahan pada tahap perencanaan maupun pengawasan pelaksanaan proyek. Anggaran miliaran rupiah yang seharusnya bermanfaat meningkatkan ketersediaan air bagi petani, justru terkesan kurang tepat sasaran dan belum memberikan manfaat optimal bagi masyarakat setempat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII selaku penanggung jawab proyek belum memberikan tanggapan resmi terkait temuan di lapangan.
Pewarta : Emi
Editor : Yopi Lubrex




















