Derasnya Arus Digitalisasi Dan Kompetisi Pendidikan, Ada Satu Fakta Sering Luput Dari Perhatian Publik

- Jurnalis

Minggu, 30 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RADARCenter, Palembang– pendidikan agama dasar bagi anak-anak. Di tengah ramainya perkembangan kota Palembang, ada sebuah ruang kecil yang pelan-pelan tumbuh menjadi pusat pendidikan agama bagi anak-anak. Namanya Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) Hj. Saudah, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang berdiri di kawasan Mushola Al-Ikhlas, Bukit Baru. Tidak besar, tidak mewah, tetapi justru di sanalah nilai kebermaknaan itu terasa: sederhana, dekat, dan sangat dibutuhkan masyarakat.

Saat sebagian orang membayangkan pendidikan ideal sebagai ruang kelas ber-AC, LCD projector, atau kurikulum modern, TPQ seperti Hj. Saudah hadir dengan wajah yang jauh berbeda. Ruang belajarnya sederhana, beralaskan ambal, dengan beberapa meja lipat, kipas angin, serta buku Iqra’ . Namun, justru dari tempat yang serba terbatas inilah, pondasi moral dan spiritual anak-anak dibentuk dengan penuh kesabaran.

Ketika Kesederhanaan Justru Lebih Mengajar:

Dalam observasi saya, yang paling mencolok bukan keterbatasan fasilitasnya melainkan kekuatan manusia yang menghidupkannya. Para ustazah mengajar bukan karena gaji besar, tetapi karena ingin menjaga keberlanjutan pendidikan agama di lingkungan mereka. Mereka mengajarkan huruf demi huruf, membetulkan makhraj satu per satu, sambil tetap mengatur anak-anak yang kadang riuh, kadang sulit fokus.

Namun inilah yang sering tidak kita sadari: kesederhanaan membuat anak-anak belajar dengan cara yang lebih manusiawi. Mereka disapa, dituntun, dibimbing. Relasi emosional terbangun dengan kuat. Tidak ada tekanan akademik, tidak ada ranking, tidak ada kompetisi. Hanya ada niat memperbaiki bacaan Al-Qur’an, memperkuat akhlak, dan menanamkan adab.

Ketika banyak sekolah berlomba-lomba menciptakan “lingkungan belajar ideal” berbasis teknologi, TPQ kecil ini membuktikan bahwa lingkungan belajar terbaik adalah lingkungan yang hidup yang penuh interaksi, kedekatan, dan ketulusan.

Tantangan yang Tidak Pernah Dilihat Media:

Sejujurnya, TPQ Hj. Saudah menghadapi tantangan yang sering tidak muncul di laporan resmi pemerintah. Bukan soal dana karena donatur lokal dan iuran sukarela sudah cukup menutup kebutuhan dasar melainkan tantangan mendidik manusia kecil yang sedang tumbuh.

Anak-anak yang sulit diatur, minat belajar yang naik turun, dan kehadiran yang sering terpengaruh cuaca adalah dinamika sehari-hari. Hal-hal kecil seperti ini jarang masuk pemberitaan, tetapi menjadi beban emosional bagi para pengajar.

Mengajar Al-Qur’an bukan sekadar mengajarkan bacaan. Ia adalah proses membentuk karakter. Dan proses itu tidak pernah mudah.

Potret Mini Peran Pendidikan Nonformal:

Dalam berbagai kajian, pendidikan nonformal sering digambarkan sebagai pelengkap pendidikan formal. Namun di banyak lingkungan Indonesia, pendidikan nonformal seperti TPQ justru menjadi penyangga utama pendidikan agama. Ia bersiifat seperti fleksibel, dekat dengan masyarakat, terjangkau, dan mampu menjawab kebutuhan riil warga.

TPQ Hj. Saudah adalah contoh nyata bahwa pendidikan agama yang kuat tidak harus menunggu anggaran negara yang besar, melainkan dapat tumbuh dari ruang kecil yang disediakan untuk generasi berikutnya.

TPQ Hj. Saudah mungkin kecil, mungkin sederhana. Namun ia mengajarkan satu hal besar: pendidikan tidak pernah tentang seberapa mewah tempatnya, tetapi seberapa besar maknanya bagi manusia yang belajar di dalamnya.

Dan sampai hari ini, ratusan TPQ di Indonesia termasuk TPQ Hj. Saudah masih membuktikan bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang lahir dari kepedulian, bukan dari kemewahan.

Sumber : *Astika Sari* Mahasiswa Universitas Sriwijaya jurusan Pendidikan Masyarakat.

Pewarta : Emi

Follow WhatsApp Channel www.radarcenter.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BAZNAS Kota Palembang Peringati Hari Sumpah Pemuda 2026 “Bersatu dalam Keberagaman, Berkarya untuk Negeri” ​
Bukan Hanya Pelaku Lapangan, Polda Sumsel Dalami Dugaan Keterlibatan Korporasi Dalam Kasus Karhutla
Wisuda ke-XXIV, IGM Lepas 472 Lulusan dan Tantang Alumni Hadapi Era AI dengan Inovasi serta Ketangguhan
Kebakaran di Lorong Sabar Palembang Hanguskan 10 Rumah, 20 KK Terdampak
Perkuat Sinergitas dan Keamanan, Kepala Rutan Bersama Kalapas Palembang Silaturahmi Dengan Kapolrestabes
Hadapi Kemarau Panjang, Bhayangkari Sumsel Hadirkan 18 Sumur Bor Untuk Masyarakat
Kilang Plaju Lahirkan Inovasi Refrigeran Ramah Lingkungan dari Musicool hingga Breezon
Menang Di Tingkat Banding, Kuasa Hukum Perjuangkan Perlindungan Hukum Bagi Pemilik SHM Guna Mendapatkan Kepastian Hukum

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:57 WIB

BAZNAS Kota Palembang Peringati Hari Sumpah Pemuda 2026 “Bersatu dalam Keberagaman, Berkarya untuk Negeri” ​

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:14 WIB

Bukan Hanya Pelaku Lapangan, Polda Sumsel Dalami Dugaan Keterlibatan Korporasi Dalam Kasus Karhutla

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:03 WIB

Wisuda ke-XXIV, IGM Lepas 472 Lulusan dan Tantang Alumni Hadapi Era AI dengan Inovasi serta Ketangguhan

Senin, 19 Oktober 2026 - 20:06 WIB

Kebakaran di Lorong Sabar Palembang Hanguskan 10 Rumah, 20 KK Terdampak

Rabu, 30 September 2026 - 07:50 WIB

Perkuat Sinergitas dan Keamanan, Kepala Rutan Bersama Kalapas Palembang Silaturahmi Dengan Kapolrestabes

Berita Terbaru