RADARcenter, palembang – Universitas Indo Global Mandiri (IGM) kembali mencetak generasi sarjana dan magister melalui prosesi Wisuda ke-XXIV Tahun 2026 yang berlangsung di Golden Sriwijaya Building, Jalan Gubernur H. Bastari, Kota Palembang, Sabtu (24/10). Sebanyak 472 wisudawan resmi dilepas untuk melanjutkan perjalanan dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Prosesi wisuda tahun ini berlangsung sedikit berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya karena digelar di luar lingkungan kampus IGM. Dari total 472 lulusan, sebanyak 29 orang merupakan lulusan Program Magister (S2), sedangkan 443 lainnya berasal dari Program Sarjana (S1). Di antara lulusan sarjana tersebut, 55 orang berasal dari Program Studi Syariah.
Rektor Universitas Indo Global Mandiri, Dr. H. Marzuki Alie, Ph.D., menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan.

Marzuki menegaskan bahwa keberhasilan memperoleh gelar akademik merupakan hasil perjuangan panjang, kerja keras, serta doa yang tidak pernah terputus.
“Hari ini kalian resmi menyandang gelar, tetapi perjalanan sesungguhnya baru dimulai,” ungkapnya di hadapan para wisudawan.
Menurutnya, para lulusan IGM merupakan generasi penerus yang akan mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan. Karena itu, ia berharap para alumni tidak hanya menjadikan ijazah sebagai simbol keberhasilan akademik, tetapi juga sebagai bekal untuk menghadapi perubahan dan tantangan masa depan.
Rektor juga memberikan penghargaan kepada orang tua dan wali wisudawan atas dukungan serta kepercayaan mereka kepada IGM selama proses pendidikan berlangsung. Ia menilai keberhasilan mahasiswa tidak terlepas dari peran keluarga yang senantiasa memberikan dukungan moral, doa, dan motivasi.
“Kepercayaan yang diberikan kepada kampus untuk mendidik putra-putri mereka bukan sekadar kehormatan bagi kami, melainkan tanggung jawab yang harus kami jaga,” ujarnya.
Tiga Tantangan Besar Menanti Lulusan
Dalam sambutannya, Marzuki Alie juga mengingatkan bahwa dunia setelah wisuda menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Setidaknya terdapat tiga tantangan besar yang harus dihadapi para lulusan, yakni perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), persaingan global, dan derasnya arus informasi.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan AI berpotensi mengubah berbagai jenis pekerjaan, terutama pekerjaan rutin seperti administrasi, penerjemahan, hingga pemrograman tingkat pemula. Kondisi tersebut menuntut lulusan perguruan tinggi untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan beradaptasi.
Tantangan berikutnya adalah persaingan kerja yang semakin terbuka secara global. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak lagi hanya berkompetisi dengan pencari kerja dari daerah sendiri, tetapi juga harus mampu bersaing dengan tenaga profesional dari berbagai negara.
“Bukan lagi Palembang melawan Palembang, tetapi Palembang melawan Vietnam dan Internasional” tegasnya.
Sementara itu, tantangan ketiga adalah derasnya arus informasi yang tidak selalu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan ketahanan mental. Ia mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh informasi harus disertai kecakapan dalam memilah, memahami, dan memanfaatkannya secara bijak.
Ia juga menyinggung proyeksi perubahan dunia kerja yang disampaikan World Economic Forum, bahwa perkembangan teknologi akan menghadirkan berbagai jenis pekerjaan baru. Oleh sebab itu, pengetahuan yang diperoleh selama masa perkuliahan perlu terus diperbarui agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
IGM Siapkan Tiga Karakter Lulusan Masa Depan
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Marzuki Alie menegaskan bahwa IGM tidak hanya berorientasi menghasilkan lulusan dengan gelar akademik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki karakter dan kemampuan untuk berkembang di tengah perubahan.
Ia menyampaikan tiga karakter utama yang harus dimiliki setiap alumni IGM, yaitu pembelajar sepanjang hayat (life-long learner), pencipta (creator), dan manusia tangguh (resilient).
Karakter pertama adalah pembelajar sepanjang hayat. Menurutnya, wisuda bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan. Para alumni perlu memperbarui keterampilan, mengikuti perkembangan teknologi, meningkatkan kompetensi, serta mempelajari berbagai keahlian baru, termasuk pemanfaatan AI.
“Wisuda ini justru hari pertama kalian harus belajar lagi, bangkit dari kegagalan, jadi tidak ada orang gagal” ujarnya.
Karakter kedua adalah pencipta atau creator. Ia mendorong para lulusan agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menghasilkan inovasi dan menciptakan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia mencontohkan pemanfaatan teknologi AI untuk membantu mengembangkan usaha keluarga, seperti membuat sistem sederhana bagi warung milik orang tua atau merancang desain digital untuk mendukung pemasaran produk UMKM di Palembang.
Menurutnya, kemampuan menciptakan sesuatu tidak harus dimulai dari proyek besar. Inovasi dapat tumbuh melalui langkah sederhana yang menjawab kebutuhan di lingkungan sekitar.
- “Jangan biarkan teknologi memakai kalian, kalianlah yang harus memakai teknologi,” tegasnya.
Karakter ketiga adalah manusia tangguh atau resilient. Ia menekankan pentingnya ketahanan mental, keberanian menghadapi kegagalan, dan kemampuan untuk bangkit ketika menghadapi kesulitan.
Menurutnya, keberhasilan di masa depan tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik atau nilai IPK, tetapi juga oleh kemampuan seseorang untuk bertahan, beradaptasi, dan terus berusaha ketika menghadapi berbagai hambatan.
Ia mengingatkan para wisudawan untuk memegang prinsip tujuh kali jatuh, delapan kali bangkit. Baginya, empati, hati nurani, akal budi, dan keteguhan manusia merupakan keunggulan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh kecerdasan mesin.
Melalui pesan tersebut, Rektor berharap seluruh alumni IGM mampu menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah, terus mengembangkan potensi, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menutup sambutannya, ia mengajak para wisudawan membawa tiga karakter tersebut sebagai bekal memasuki dunia baru setelah menyelesaikan pendidikan di IGM. Ia berharap para alumni mampu menjadi generasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, produktif dalam menciptakan inovasi, dan tangguh menghadapi persaingan global.
Dengan dilepasnya 472 lulusan dalam Wisuda ke-XXIV Tahun 2026, Universitas Indo Global Mandiri kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kreativitas, dan daya saing untuk menghadapi masa depan. ( red/RC)




















